Teknik bertanya

Pertanyaan sering bermakna banyak, bisa sebagai penegasan terhadap suatu masalah yang kurang difahami, mengungkapkan suatu hal agar lebih detil diketahui atau untuk maksud lainnya.  Banyak pertanyaan yang tidak memperoleh jawaban yang diharapkan, bahkan kadang-2 jawabannya sudah bisa ditebak sebelumnya. Si penanya menjadi tidak puas dengan jawaban yang diperoleh dan sering diekspressikan bahwa harus diadakan sessi tanya-jawab berikutnya atau klaim-2 lain yang diasosiasikan bahwa tidak terjadi komunikasi dengan baik.

Untuk memberikan pertanyaan yang “cerdas” diperlukan penguasaan masalah yang memadai sehingga bisa diperoleh jawaban yang menyentuh substansi yang dikehendaki dan terhidarkan dari jawaban normative.  Dibutuhkan kejelian untuk mengidentifikasi substansi masalah yang akan ditanyakan, kemudian dilengkapi data-2 hasil riset sehingga pertanyaan yang dikemukakan dapat menyentuh akar permasalahan.

Menarik untuk menyimak pertanyaan -2 yang disampaikan oleh para anggota dewan yang terhormat dalam mengungkap kasus salah satu bank nasional kepada pejabat-2 di republik ini. Sebelumya saya berharap dapat belajar tentang pertanyaan-2 cerdas diajukan kepada nara sumbernya, namun sepertinya saya akan kecewa. Mungkin memang  tanya jawab baru memasuki tahapan awal sehingga tidak ada sesuatu yang “sensasional” disitu, atau mungkin juga saya yang “over expectation”. Saya berharap ada adu argumentasi tentang data-2 kuantitatif ketimbang data kualitatif sehingga mudah dicerna dan difahami oleh orang awam seperti saya. Selalu menarik untuk menyaksikan diskusi cerdas dan konstruktif untuk menambah wawasan, apalagi disajikan dengan metode visual seperti di televisi.

Saya berharap  tahapan yang sudah dilewati tadi menjadi pembelajaran bagi semua pihak penanya maupun yang ditanya, baik yang aktif maupun sebagai penonton seperti saya ini. Bahwa untuk menggali informasi substansi suatu masalah perlu lebih dari sekedar bertanya, namun perlu dilengkapi dengan data pendukung serta teknik bertanya yang baik sehingga yang tadinya samar bisa menjadi lebih jelas. Bahwa tidak perlu saling menghujat untuk mengungkapkan kebenaran. Bahwa masih banyak cara yang elegan dalam menyelesaikan perbedaan penafsiran.

Wallahu ‘alam bissawab

Pak, punya materi komputer yang bahasa Indonesia ngga?.

Saya kurang tahu persis apakah pertanyaan tersebut masih relevan dengan situasi saat ini atau tidak. Bukan sekedar karena banyak buku-2 tentang komputer berbahasa Indonesia tetapi juga alat bantu penterjemahan sudah cukup banyak.  Ada yang berbentuk seperti kalkulator atau web site gratisan yang mampu menterjemahkan berbagai bahasa kedalam bahasa Indonesia.

Pertanyaan tersebut muncul pada saat kuliah berlangsung, dan jawabannya sudah bisa ditebak. Dengan sedikit diplomasi, saya suntikkan motivasi ke kelas tersebut bahwa penguasaan ilmu komputer jangan sampai terkendala oleh bahasa pengantarnya.  Padahal di dunia komputer, bahasa Inggris sudah menjadi bahasa pengantar yang umum, misalnya di bidang pemrograman. Instruksi-2 yang diberikan biasanya ditulis dalam bahasa Inggris bahkan comment nya pun juga demikian.

Saya tidak su’udzon bahwa pertanyaan tersebut muncul karena mahasiswa tersebut malas berpikir, tetapi mungkin lebih karena niat yang sangat kuat dan mencari cara termudah untuk memahami ilmu komputer. Sayangnya buku-2 tentang ilmu komputer yang berbahasa Indonesia masih harus diperbanyak judul, variasi topik dan tentu saja harganya dibuat lebih terjangkau.

Saat ini sudah banyak media yang bisa dipakai sebagai sumber bacaan, misalnya e-book (gratisan atau berbayar), journal elektronik serta artikel-2 ringan di blog-2 pribadi para pengguna komputer. Selain bermanfaat untuk sharing pengetahuan juga bisa dimanfaatkan sebagai portfolio penulis dibidang komputer.

Blog pribadi dapat dimanfaatkan untuk sharing artikel-2 tentang teori dan perkembangan ilmu komputer. Artikel tersebut bisa berupa pengalaman, terjemahan bebas (sepanjang tidak melanggar Hak Intelektual) ataupun pendapat penulis. Dengan berbagai latar belakang penulis (mahasiswa, dosen, praktisi maupun ilmuwan) maka variasi dan kedalaman materi yang tersedia akan semakin baik sehingga diharapkan pemahaman tentang ilmu komputer dapat tersebar lebih luas dan bisa menambah motivasi para mahasiswa untuk membaca tanpa takut terkendala bahasa pengantar.

Wallahu ‘alam bissawab.